Selasa, 04 Juni 2013

Iron Man 3 (Action Movie)

Sowhat’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.
Berada di linimasa yang terdapat pada waktu beberapa saat setelah berbagai kejadian yang digambarkan dalam The Avengers, Iron Man 3 membuka kisahnya dengan penggambaran karakter Tony Stark (Downey, Jr.) yang masih berusaha mencerna berbagai hal yang ia alami selama beberapa waktu terakhir. Usaha tersebut, sayangnya, justru memberikan rasa depresi pada kondisi kejiwaan Stark – dan membuatnya tidak dapat tidur, memiliki tingkatan emosional yang labil dan menghasilkan jarak yang cukup lebar antara dirinya dengan Pepper Potts (Paltrow) dalam hubungan asmara yang telah mereka jalin. Dan situasi kehidupan Stark justru tidak akan berjalan lebih baik sesudahnya. Ia harus menghadapi ancaman yang datang dari dua arah: sosok teroris bernama Mandarin (Ben Kingsley) yang mengancam akan menghancurkan Amerika Serikat serta seorang pria bernama Aldrich Killian (Guy Pearce) yang datang dari masa lalu Pepper Potts dan berusaha untuk merebut perhatiannya kembali.
Kekuatan utama dari seri Iron Man, dan sebuah faktor besar yang berhasil menarik banyak penggemar baru ketika versi adaptasi live action dari seri komik Iron Man pertama kali dihadirkan pada tahun 2008 lalu, jelas berada pada kharisma seorang Robert Downey, Jr dalam memerankan karakter Tony Stark/Iron Man. Dalam Iron Man 3, Downey, Jr. bahkan diberikan ruang emosional yang lebih luas lagi guna menyelami kedalaman karakternya, khususnya sebagai seorang manusia dan bukan hanya sebagai seorang sosok superhero. Tidak hanya digambarkan sebagai sosok milyuner yang cerdas/womanizer/egois/banyak bicara/arogan, naskah cerita yang ditulis oleh Shane Black bersama dengan Drew Pearce, berhasil memberikan gambaran Tony Stark sebagai sosok yang sensitif dan dipenuhi banyak rasa kekhawatiran ketika harus berhadapan dengan banyak hal yang mungkin tidak dapat ia tangani. Layaknya manusia biasa. Sisi humanis ini berhasil dihidupkan oleh Downey, Jr. pada banyak bagian film, namun khususnya benar-benar terasa ketika karakter Tony Stark/Iron Man digambarkan sedang berinteraksi dengan karakter seorang anak bernama Harley (Ty Simpkins) – yang sekaligus menjadi pengingat bahwa karakter superhero favorit Anda kini telah berada di bawah komando Walt Disney.
Keputusan Black dan Pearce untuk memfokuskan jalan penceritaan pada sisi personal dari karakter Tony Stark/Iron Man jelas merupakan sebuah keputusan yang cukup berani. Pada beberapa bagian, keputusan tersebut membuat Iron Man 3 terkesan sebagai sebuah film bernuansa aksi komedi yang berdiri sendiri daripada sebagai bagian ketiga dari sebuah franchise film besar yang bertemakan superhero. Di sisi lain, kemungkinan besar kebanyakan penonton tidak akan sanggup untuk menahan diri mereka untuk tidak merasa jatuh hati pada pengembangan cerita yang begitu berhasil akan hubungan yang terjalin antara Tony Stark dengan karakter-karakter yang berada di sekitarnya. Hubungan romansa yang ia jalin dengan karakter Pepper Potts berhasil disajikan lebih dari sekedar kisah jalinan asmara yang sering terasa dihadirkan hanya sebagai penambahan warna bagi karakter seorang superhero dalam film-film sejenis. Hal yang sama juga terjadi antara hubungan Tony Stark dengan karakter Colonel James Rhodes/Iron Patriot yang terlihat semakin padu dengan pertukaran dialog-dialog bernuansa komedi antara keduanya yang akan mampu menghibur penonton.
Jika ada keluhan yang dapat dirasakan pada alur penulisan cerita Iron Man 3, maka hal tersbeut mungkin datang dari bagaimana cara Black dan Pearce terkesan terlalu menggampangkan karakterisasi tokoh-tokoh antagonis yang hadir di dalam jalan cerita film ini. Menghadirkan tidak kurang dari tiga karakter antagonis utama, Black dan Pearce sayangnya gagal untuk memberikan ketiga karakter tersebut porsi penceritaan yang mampu tampil meyakinkan. Karakter Maya Hansen yang diperankan oleh Rebecca Hall jelas terasa sebagai karakter yang sia-sia kehadirannya di jalan cerita film ini – dan membuat setiap orang mengerti mengenai keputusan Jessica Chastain untuk menolak peran ini. Karakter Aldrich Killian sendiri hadir dalam skala penceritaan yang cukup besar. Namun sayangnya, motivasi yang diberikan Black dan Pearce untuk karakter tersebut dalam melakukan berbagai tindakan kekerasannya terkesan begitu ringan dan kurang kuat. Yang paling mencuri perhatian jelas kehadiran karakter Mandarin. Meskipun kehadirannya terkesan sebagai karakter antagonis tambahan namun, secara mengejutkan, karakter inilah yang justru benar-benar mampu tampil sebagai karakter antagonis yang sebenarnya. Kelam dan begitu kejam. Begitu tangguhnya penggambaran karakter tersebut kemudian berhasil dimanfaatkan oleh Black dan Pearce untuk menghadirkan sebuah kejutan besar yang akan sanggup memberikan penontonnya bahan perdebatan panjang berhari-hari setelah mereka selesai menyaksikan film ini – namun tetap harus diakui mampu dieksekusi dengan baik oleh Black.
Rasanya tidak ada keluhan yang dapat disampaikan dari cara Black dalam mengeksplorasi berbagai adegan aksi yang hadir dalam film ini. Iron Man 3, terlepas dari perubahan nada penceritaannya, tetaplah mampu menghadirkan deretan adegan aksi dan ledakan dalam skala besar dan cukup mengagumkan. Terlepas dari beberapa karakter yang hadir dalam porsi penceritaan yang cukup terbatas, departemen akting Iron Man 3 yang diisi dengan nama-nama seperti Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Guy Pearce, Ben Kingsley dan Rebecca Hall tetap berhasil solid dalam menghidupkan peran masing-masing – dengan chemistry yang terjalin antara Downey, Jr. dengan Paltrow, Cheadle dan Ty Simpkins – yang menampilkan penampilan akting yang mengesankan – mampu menjadi highlight pada banyak bagian presentasi cerita film ini.
Well… kredit utama dari Iron Man 3 jelas layak diberikan pada Marvel Studios yang dengan berani memberikan kebebasan bagi Shane Black untuk menciptakan atmosfer penceritaan seperti yang ia inginkan – meskipun jelas Black terlihat sangat terpengaruh pada kemampuan Joss Whedon untuk mengubah The Avengers menjadi sebuah film aksi komedi yang benar-benar menghibur. Naskah cerita yang diarahkan oleh Black bersama Drew Pearce jelas akan mampu menghadirkan perbedaan pendapat bagi banyak penggemar franchise ini. Pun begitu, tidak dapat disangkal bahwa Black dan Pearce telah memberikan sebuah kualitas penulisan naskah yang terasa begitu segar dalam menyikapi tema superhero yang diusungnya – Hey! Tidak semua karakter superhero harus dihadirkan dengan jalan cerita kelam seperti yang selalu terjadi dalam dunia seorang Christopher Nolan. Black mampu menyajikan sebuah presentasi cerita dengan kehadiran sisi aksi yang mampu tergali dengan baik, dialog-dialog yang tajam dan cerdas serta sajian drama yang terasa personal namun berhasil memberikan berbagai komentar sosial terhadap banyak hal yang sedang terjadi di dunia saat ini. Sebuah sajian yang solid dan menjadikan Iron Man 3 sebagai bagian terbaik dari perjalanan franchise ini.

Iron Man 3 (Marvel Studios, 2013)
Iron Man 3 (Marvel Studios, 2013)
Iron Man 3 (2013)

Fast And Farious 6 (Action Movie)

12 tahun sejak film pertamanya rilis, seri Fast and Furious kini telah mencapai judul keenam. Mungkin tidak ada yang menyangka, sebuah film dengan premis cerita serta aktor yang biasa-biasa saja mampu menjadi salah satu franchise terlaris sepanjang masa. Sempat dianggap habis ketika film ketiganya, Tokyo Drift (2006), mendapat keuntungan jauh di bawah The Fast and The Furious (2001) dan 2 Fast 2 Furious (2003), Vin Diesel dkk kembali merajai box office lewat Fast and Furious (2009). Puncaknya, ketika Fast Five (2011) meraup pendapatan lebih dari 600 juta Dollar AS di seluruh dunia, dan masuk ke dalam daftar film terlaris sepanjang masa.

Tidak hanya mengandalkan mobil-mobil dengan modifikasi keren dan aksi kebut-kebutan, Fast and Furious terus mengembangkan cerita di tiap sekuel, dan karakter-karakternya pun mengalami pendewasaan. Sutradara Justin Lin, yang mengarahkan seri ini sejak Tokyo Drift, mengerti betul bahwa penonton akan bosan jika Fast and Furious terjebak dalam zona nyaman dan terus menjual cerita yang serupa. Perubahan drastis dimulai dengan kematian karakter Letty dalam film keempat, dan mengkombinasikan balap mobil dengan perampokan di Fast Five. Lalu, bagaimana dengan film keenam?


Bad news for Dom

Fast and Furious 6 dibuka dengan kelahiran anak Brian (Paul Walker) dan Mia (Jordana Brewster). Hadirnya anggota keluarga baru dalam keluarga Toretto-O’Conner disambut bahagia oleh Dom (Vin Diesel). Namun, kebahagiaan tersebut dirasa semu, karena status mereka sebagai buronan internasional selalu menghantui. Tidak hanya Brian dan Dom, sahabat-sahabat mereka yang tersebar di penjuru dunia juga merasakan yang sama. Sementara itu, Hobbs (Dwayne Johnson), yang melepas kelompok Dom usai merampok di Brasil, bersama Riley (Gina Carano) tengah memburu sebuah organisasi kriminal beranggotakan pengemudi liar dari berbagai negara. Owen Shaw (Luke Evans), pimpinan grup tersebut, melakukan teror di banyak tempat untuk mencapai tujuannya. Hobbs sadar, orang-orang Shaw hanya bisa ditaklukan oleh lawan yang seimbang: kelompok Dom. Permintaan tolong Hobbs ditolak Dom, namun sebuah foto yang menunjukkan Letty, kekasih Dom yang telah meninggal ternyata masih hidup dan menjadi bawahan Shaw membuatnya berubah pikiran. Dom dan Brian pun segera mengumpulkan sahabat-sahabatnya: Roman (Tyrese Gibson), Tej (Ludacris), Han (Sung Kang), dan Gisele (Gal Gadot). Dengan misi menggagalkan rencana Shaw dan memastikan keberadaan Letty, Dom dan kelompoknya juga meminta satu syarat lagi, yaitu kebebasan dari semua tindak kriminal yang pernah mereka lakukan. Meski berat hati, Hobbs mengabulkan permintaan mereka, dan menyusun strategi untuk menangkap Shaw.


Negotiating their way out

Action-wise, Fast and Furious 6 adalah paket komplit dan akan memuaskan penggemar film aksi. Jika pada Fast Five perampokan menjadi unsur tambahan yang memperkaya cerita, kali ini seni bela diri dan perlengkapan militer berat yang dapat giliran. Dilema Dom yang kembali bertemu Letty di saat ia tengah bersama Elena (Elsa Pataky) pun jadi bumbu cerita menarik. Karakter seperti Roman dengan humornya, Tej yang tech-geek, serta pasangan Han dan Gisele juga mendapat porsi cukup untuk unjuk kemampuan.


Joe Taslim showing off his Judo skills

Kehadiran aktor Indonesia Joe Taslim jelas jadi perhatian utama penonton tanah air, dan ia pun tidak mengecewakan sama sekali. Dengan peran pendukung sebagai anggota kelompok Shaw bernama Jah, Joe Taslim menunjukkan ia tidak demam panggung atau berada di bawah nama-nama besar Hollywood. Ia bahkan mendapat cukup banyak dialog dan sebuah pertarungan seru 1vs2 melawan Han dan Roman (yang ia menangi). Aktor asal Inggris Luke Evans juga patut diberi perhatian sebagai penjahat utama, mengingat seri Fast and Furious sebelumnya dikenal tidak memiliki karakter antagonis yang tangguh dan capable on his own.


"Super Dom"

Kekurangan Fast and Furious 6 bisa berlaku juga sebagai keunggulannya. Adegan-adegan tidak masuk akal dan membuat kening berkerut tersaji lengkap sepanjang film, seperti saat Dom menjadi ‘Superman’ ketika berusaha menyelamatkan Letty, atau landasan pacu pesawat yang seolah tanpa akhir ketika pengejaran Shaw mencapai klimaks. Toh, adegan-adegan semacam itu yang memang penonton harapkan dari seri Fast and Furious, ridiculous but fun to watch.

Poin terpenting Fast and Furious 6 bisa dibilang justru ada di adegan setelah film usai, alias post-credit scene. Adegan ini menghubungkan cerita dalam Tokyo Drift dan karakter Han, serta menjadi pondasi plot untuk sekuel berikutnya. Ya, tepat setelah 7 tahun akhirnya Fast and Furious 6 lah yang menjadi prekuel langsung Tokyo Drift.


Over the top and ridiculously fun actions

Fast and Furious is all about cars and actions. Film keenamnya pun sama sekali tidak meninggalkan identitas franchise ini. Fast and Furious 6 jauh lebih berisik dan heboh dibanding pendahulunya, dengan tingkat keekstriman yang over the top. Namun, itu lah yang membuat seri ini dicintai penggemar: Fast and Furious tidak berusaha untuk menjadi film yang cerdas dan memaksa otak penonton bekerja keras. Enam buah film dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir adalah bukti kuat film brainless dan straightforward seperti Fast and Furious bisa sukses jika digarap dengan benar.

MAMA (horror)

Film "Mama" ini bercerita ketika Jeffrey membunuh rekan bisnisnya lalu meninggalkan istri rekannya tersebut. Jeffrey melarikan diri dengan membawa dua anaknya yaitu Victoria (3 tahun) dan Lily (setahun). Dalam perjalanan, mobil mereka terguling setelah menabrak pohon. Beruntung mereka selamat dan menemukan sebuah gubuk tua yang ditinggalkan pemiliknya. Jeffrey yang bingung kemudian bermaksud membunuh anakya itu dan kemudian bunuh diri.
film-mama
Sinopsis Film Mama
Jeffrey kemudian meminta Victoria melihat di balik jendela. Jeffrey lalu mengeluarkan pistol dan menempelkan pistol tersebut ke kepala Victoria. Saat hendak menarik pelatuk, tiba-tiba muncul sesosok makhluk menghempaskan Jeffrey dan membawanya entah ke mana. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat sampai-sampai Victoria hanya melihat bayangan itu dari balik kacamatanya yang retak.
Lima tahun berselang, Lucas, saudara Jeffrey, bersama regu penyelamat berhasil menemukan dua anak tersebut yang ternyata kelakuannya sudah liar dan mirip binatang. Di pengadilam Lucas berhasil menyakinkan hakim untuk mengasuh anak itu dalam asuhan Lucas bersama pacarnya, Annabel
Tak mudah merubah kebiasaan kedua anak tersebut untuk menjadi manusia seutuhnya, apalagi Lily yang makin misterius perangainya. Tiap hari selalu ada saja kejadian menakutkan. Bahkan Lily beberapa kali berbicara sendiri yang ia yakini sedang berbicaranya dengan roh ibunya.
Dr. Dreyfus yang penasaran lalu meneliti kedua anak itu. Dr Dreyfus memutuskan kembali ke hutan tempat gubuk tua dimana anak itu ditemukan tapi justru di sana ia tewas secara misterius. Annabel yang sudah ketakutan lalu mencuri hasil riset Dr Dreyfus. Di situ ia menemukan fakta mencengankan. Ternyata "mama" yang dimaksud oleh Lily selama ini adalah...?

Kamis, 09 Mei 2013

Cara Membedakan Kucing Persia Dan Kucing Anggora

Hai para penggila Kucing Khususnya para penggemar kucing Persia dan kucing Anggora. Sekilas memang kedua Kucing ini terlihat sama apalagi pada bagian ekor. hmmm....  tapi kalo kita lihat lebih detail pasti kita akan menemukan perbedaan yang cukup signifikan (Cieeh bahasanya) hehe.
Okelah kalo begitu kita langsung ulas perbedaan pada kedua kucing ini.

Ciri-ciri kucing Persia
kucing persia tasik

kucing persia tasik

kucing persia tasik

1. Berdasarkan variasi warna bulu, kucing persia terbagi menjadi 7 kelompok yaitu : solid color, silver and golden division, shaded and smoke division, tabby division, particolor division, bicolor division dan himalayan division.
2. Kepala kucing persia besar dan bulat, hidungnya pesek dan lebar dengan celah pembatas yang jelas dengan mata.
3. Rahangnya kuat dan lebar dengan pipi ditopang tulang pipi yang menonjol.
4. Kalau dilihat dari samping, bagian dahi hidung dan dagu berbentuk garis tegak lurus.
5. Telinga kucing persia berujung bulat dengan bagian dasar melebar. Telinga tadi juga tidak terlalu tinggi dan miring kedepan.
6. Matanya yang membuka berbentuk bulat dan lebar.
7. Warna mata biasanya berhubungan dengan warna bulu.
8. Dadanya lebar dan membulat dengan bagian punggung sedikit membulat.
9. Ukuran dan posisi perut bagian belakang membulat dan olebih rendah.
10. Kakinya pendek, tebal dan kuat karena ditopang tulang yang berukuran besar.
11. Kaki depan dan kaki belakang lurus bila dilihat dari belakang.
12. Cakarnya besar, bulat dan kokoh.
13. Ada lima jari dikaki depan dan empat jari di kaki belakang.
14. Bulu-bulunya yang panjang dan tebal mengkilap, menutupi seluruh badannya.
15. Ekornya berbulu tebal, lurus dan panjang sesuai proporsi badannya.

 Ciri-ciri kucing Anggora 
kucing persia tasik

kucing persia tasik
1. Kucing angora berhidung mancung dan nampak manis.
2. Kucing angora dikenal sebagai kucing yang cerdas karena memiliki sifat keingin tahuan.
3. Mempunyai ukuran badan sedang dengan tubuh relatif besar, panjang dan langsing.
4. Kaki dan ekornya panjang.
5. Ekornya berbulu tebal dan mengembang seperti ekor musang.
6. Keseluruhan kepala berbentuk seperti segitiga, dengan telinga lebar danmenunjuk.
7. Matanya besar berbentuk kacang almond.
8. Warna bulunya bermacam-macam seperti : putih, hitam, coklat, tricolor/blangtelon [putih, hitam, kuning kecoklatan], kuning, kemerahan dan lainnya
nah itulah perbedaan antara Kucing Persia dan Kucing Anggora
Sekian dari yang Ngetik Semoga Bermanfaat dan Lebih teliti hehehe wasalam

A LITTLE THING CALLED LOVE

INGATKAH MASA MASA SAAT ANDA MULAI MENYUKAI SESEORANG DAN MENRASAKAN BAHWA ANDA JATUH CINTA KEPADANYA....

Masa dimana anda melalukan hal-hal aneh dan gila mungkin juga hal yang konyol untuk menarik perhatiannya..
CINTA? hal yang sangat aneh, entah dari mana asalnya. ada yang menganggap bahwa cinta bisa memberikan sebuah pengaruh yang sangat buruk dan juga ada yang menganggap bahwa cinta bisa memberikan sebuah pengaruh yang sangat positif dengan menjadikan mereka seseorang yang lebih sangat baik bagi seseorang yang mencintainya (*^ -^*)

Dalam Crazy Little Thing Called Love, seorang gadis berusia 14 tahun, Nam (Pimchanok Luevisetpaibool), untuk pertama kalinya merasakan adanya getaran cinta di dalam hatinya kepada salah seorang seniornya, Shone (Mario Maurer). Masalahnya, dengan wajah Shone yang sangat tampan — dan ditambah dengan kepribadian yang menarik serta kemampuan olahraga yang mengagumkan — Nam bukanlah satu-satunya gadis di sekolah tersebut yang jatuh hati terhadap Shone. Dengan wajah dan kepribadian yang biasa saja, jelas Nam bukanlah seorang kontender favorit yang dapat memenangkan hati Shone. Dengan bantuan teman-temannya, dan sebuah buku yang berisi berbagai metode untuk mendapatkan hati seorang pria, Nam mulai melakukan berbagai prubahan pada dirinya. Suatu perubahan yang secara perlahan, tanpa disadari Nam, malah membuatnya menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya.

 



Sama seperti film-film drama komedi sejenis yang mengisahkan mengenai transformasi seorang karakter yang biasa saja pada awalnya menjadi seorang karakter yang menarik di akhir cerita, Crazy Little Thing Called Love juga berjuang untuk mempertahankan sisi menarik kisahnya ketika sang karakter utama telah berubah menarik. Sayangnya, usaha ini dapat dikatakan kurang begitu dapat dieksekusi dengan baik ketika bagian pertengahan film ini terasa sedikit hambar jika dibandingkan dengan bagian sebelumnya. Plot cerita tambahan mengenai guru Nam, Inn (Sudarat Budtporm), yang dikisahkan mengejar perhatian guru lainnya, juga kurang berhasil mengisi kekosongan ruang dalam film ini dan seringkali hanya terasa sebagai perulangan kisah cinta Nam namun berasal dari karakter yang lebih dewasa.  Karakter Nam sendiri menjadi terasa begitu hidup berkat dukungan tiga karakter sahabatnya yang selalu dapat diandalkan dalam memberikan berbagai adegan komedi untuk film inI

 


 Sebagai lawan main Pimchanok Luevisetpaibool, aktor muda, Mario Maurer, memang sangat tepat untuk memerankan Shone yang menjadi idola seluruh gadis di sekolahnya. Walau sepertinya hal tersebut tidak membutuhkan kemampuan akting yang terlalu mendalam, penampilan Maurer sebagai Chon tidak sepenuhnya mengecewakan. Setidaknya ia juga berhasil dalam menampilkan sisi sensitif karakternya yang datang ketika karakter tersebut berhubungan dengan masalah masa lalu sang ayah atau perjuangannya dalam berusaha untuk membuktikan kemampuannya dalam bidang fotografi dan sepakbola.

 


 Seperti film-film drama komedi romansa remaja karya John Hughes di tahun 1980-an, Crazy Little Thing Called Love cukup mampu menuturkan sebuah kisah cinta pertama yang familiar dengan ritme komedi yang sangat menghibur.


                                             

MARIO MAURER :*

ihh.. ;) unyu banget, ini fotonya mario pas upload foto buat aku, pas akunya lagi ulang tahun :D (Amiin), but in reality it's all just a dream

















 
 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
ini fotonya mario maurer pas lagi sama saudaranya - 





The following is the biographical data of Mr.MM : ^_^


Nama : Mario Maurer
Nama Panggilan : Nuttavut Maurer
Tempat Lahir :Bangkok, Thailand
Tanggal Lahir : 4 Desember 1988
Hobi : Papan Luncur, Belanja, Memelihara Ikan Cupang
Pekerjaan : aktor, peragawan, dan penyanyi
Tahun Aktif : 2004-Sekarang
Nama Ayah : Roland (Jerman)
Nama Ibu : Warunya (Thailand)
Saudara : Marco Maurer
Kebangsaan : Thailand
Pendidikan : St. Dominic School, Bangkok lalu melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Komunikasi
 Universitas Ramkhamhaeng.



The beginning of the story and began his career mario maurer :#


Mario mengawali kariernya sebagai peragawan dengan menjadi foto model, bintang iklan, dan bintang video klip saat ia masih berusia 16 tahun. Pada tahun 2007, ia bermain sebagai pemeran utama dalam film The Love of Siam yang disutradarai oleh Chukiat Sakweerakul. Perannya sebagai "Tong" menuai banyak pujian dan langsung membuatnya populer, bahkan sampai keluar Thailand. Akan tetapi, dengan rendah diri ia berkata, "Saya tidak ingin melakukannya, bermain peran tidak ada dalam daftar pekerjaan saya." Ia memutuskan untuk membintangi film ini karena ia percaya dengan kualitas sutradaranya dan juga kesempatan berkarier yang akan semakin luas. Ia mengatakan bahwa penghasilannya akan digunakan untuk membantu keluarganya.
Dalam suatu kesempatan, saat ditanya tentang adegan ciumannya dengan aktor Witwisit Hiranyawongkuldalam The Love of Siam, Maurer berkata, "Saya selalu gugup. Saya belum pernah mencium laki-laki dan mencium bukanlah sesuatu hal yang biasa kita lakukan setiap hari." Maurer pernah dinominasikan dalam ajang Asian Film Awards sebagai Aktor Pendukung Terbaik untuk penampilannya dalam The Love of Siam, tetapi kalah dari Sun Hong-Lei yang membintangi film Mongol. Ia berhasil meraih penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam kategori Film Asia Tenggara dalam ajang Cinemanila International Film Festival ke-10 tahun 2008 yang diselenggarakan diManila, Filipina.
Ia juga memenangkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik dari Starpics Thai Films Awards dan juga pernah dinominasikan dalam ajang Bangkok Critics Assembly and Star Entertainment Awards.
Sutradara Bhandit Rittakol pernah menawari Maurer untuk membintangi film Boonchu 9, tetapi batal karena ia sedang terlibat dalam proyek lain. Pada tahun 2008, ia muncul dalam film Friendship yang disutradarai oleh Chatchai Naksuriya. Film tersebut berlatar tahun 1983. Maurer berperan sebagai pasangan Apinya Sakuljaroensuk yang masih duduk di kelas 12 SMA. Pada tahun yang sama, ia muncul dalam sebuah segmen yang berjudul Joobdalam film antologi empat cerita berjudul 4 Romance yang disutradarai oleh Rashane Limtrakul.
Proyeknya setelah tahun 2008 antara lain membintangi film komedi-horor yang ditulis dan disutradarai oleh Yuthlert Sippapak, Buppha Reborn, yang rencananya akan dirilis pada bulan April2009.

about the personal life mario  {}

Mario adalah putra dari seorang Jerman yang bernama Roland dan seorang ibu Thailand etnis Tionghoa yang bernama Warunya. Ayahnya bekerja sebagai pengekspor deodoran yang terbuat dari alum. Kakaknya, Marco Maurer yang lahir di Jerman, adalah seorang rapper yang berada di bawah label rekaman N.Y.U. Club. Mario mulai mendekati salah satu personel Baby Booty, "Gubgib" Summanatip Lerng-authai, pada tahun 2004, setelah dipertemukan oleh teman mereka di Taman Benchasiri. Akan tetapi, ia menolak disebut pacaran dan menganggapnya hanya sebagai teman baik.
Mario menyukai musik hip-hop sejak ia masih berusia 12 tahun. Ia menggemari beberapa rapper seperti Joey Boy, Dajim, 2Pac, T.I., dan LL Cool J. Jika ada waktu senggang, Mario sering mengisinya dengan bermain papan luncur, berbelanja di Siam Square, atau merawat ikan cupang peliharaannya. Dalam suatu kesempatan ia berkata,"Salah satu ikan cupang peliharaan saya pernah memenangkan penghargaan nasional karena kecantikannya.Mario masih sering dijumpai sedang berbelanja di Chatuchak Weekend Market, Suan Lum Night Bazaar, dan Siam Square.